Contact Us
Webmail
Publikasi Media
Direktori Bahasa Indonesia
English

Lidar, Sistem Pemetaan Paling Efisien

Lidar (light detection and ranging) merupakan teknologi baru yang cukup fenomenal di bidang geospasial. Teknologi ini menjadi semakin dibutuhkan dan memegang peranan sejak disahkannya UU Geospasial tahun 2011. Dalam UU ini diamanatkan adanya penyediaan informasi rupa bumi dengan skala 1:1000 oleh Badan Informasi Geospasial. “Teknologi lidar inilah yang bisa menjawab kebutuhan-kebutuhan penyediaan data tersebut,” kata Dr. Ir. Istarno., Dip.LIS., M.T., staf pengajar Jurusan Teknik Geodesi dan Geomatika UGM, Selasa (21/6), dalam Workshop Lidar untuk Survei Pemetaan di UC UGM.

Saat ini, pemetaan dengan menggunakan sinar laser yang dibawa pada pesawat udara ini merupakan sistem pemetaan yang paling efisien dibandingkan dengan survei langsung ataupun fotogrametri dan penginderaan jauh. “Teknologi ini mampu mengakuisisi data dengan hingga 200 Khz atau 200.000 titik per detik. Di samping itu, lidar dapat menghasilkan data ketinggian dengan kerapatan 25 titik/m2,” jelas pria yang didaulat sebagai ketua panitia workshop kali ini.

Dituturkan Istarno, sistem pemetaan dengan menggunakan lidar selain lebih cepat dan akurat, juga lebih murah. Biaya teknologi lidar menggunakan pesawat biayanya 100 ribu rupiah per hektar, dengan luasan minimal 10.000 hektar. “Meski bersifat efisien, pemanfaatan lidar di Indonesia masih sangat minim karena dalam setiap melakukan perekaman membutuhkan biaya yang cukup mahal untuk sewa pesawat. Kebanyakan yang menggunakan adalah perusahaan tambang,”terangnya.

Sebagai teknologi baru, dibutuhkan pengenalan konsep lidar untuk pemetaan terkait dengan cara perolehan data, alat yang digunakan, pengolahan dan penyajian data lidar. Di samping itu, juga aplikasi lidar untuk berbagai macam pekerjaan. Berangkat dari hal tersebut, Laboratorium Fotogrametri dan Remote Sensing Jurusan Teknik Geodesi Fakultas Teknik UGM bekerja sama dengan ISI KOMWIL Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan workshop yang berlangsung selama tiga hari, 21-23 Juni 2011 ini.

Kegiatan ini merupakan workshop lidar pertama di Indonesia dan diikuti sekitar 30 peserta dari berbagai perusahaan tambang se-Indonesia. Dalam kesempatan tersebut juga digelar pameran yang diisi sejumlah perusahaan tambang dan konsultan teknik, seperti PT Airborne Informatics, PT Asaba, PT Bukaka, dan PT Almega Geosystem. (Humas UGM/Ika)