Contact Us
Webmail
Publikasi Media
Direktori Bahasa Indonesia
English

Dwikorita Karnawati: Daerah Perlu Pemetaan Zona Rentan Banjir Bandang

Kategori :

YOGYAKARTA (KU) – Bencana banjir bandang masih mengancam beberapa wilayah di Indonesia, terutama di dataran yang berada tepat di muka kaki bukit terjal pada lembah sungai. Untuk upaya antisipasi dan pencegahan banjir bandang ini, pakar geologi UGM, Prof. Dr. Ir. Dwikorita Karnawati, menekankan pentingnya pemetaan zona rentan untuk penataan ruang yang tepat dan ketat guna identifikasi dan pemetaan zona-zona yang rentan mengalami banjir bandang. "Dengan mempertimbangkan kondisi alam dan perubahan tata guna lahan saat ini yang makin pesat, diperkirakan bencana banjir bandang masih terus akan melanda beberapa wilayah rentan di Indonesia," kata Dwikorita kepada wartawan, Jumat (8/10).

Menurutnya, daerah yang rentan ini menunjukkan ciri geomorfologi dan geologi yang khas, yaitu dicirikan oleh kenampakan endapan berbentuk kipas atau bulu burung apabila dilihat dari udara (citra satelit atau foto udara). Zona dengan kondisi demikian diketahui secara alamiah dan periodis telah mengalami proses sedimentasi arus pekat dengan volume sedimen yang besar. "Apabila kita telah dapat menengarai zona rentan ini, maka penataan ruang pada dan sekitar zona tersebut harus ketat agar tidak terjadi proses percepatan sedimentasi yang membentuk bendung di bagian hulu sungai," terangnya.

Selain itu, upaya pemantuan dan peringatan dini sangat dibutuhkan karena zona yang telah teridentifikasi/terpetakan sebagai zona rentan banjir bandang perlu dipantau secara periodik agar dapat terdeteksi secara dini terjadinya proses pembendungan di daerah hulu sungai. "Pemantauan ini dapat dilakukan melalui pengamatan visual secara periodik tiap musim hujan dengan interpretasi citra satelit atau foto udara ataupun melalui inspeksi udara. Pemantauan perlu diperketat apabila daerah hilir telah berkembang menjadi pemukiman padat," ujarnya.

Pemantauan juga dapat dilakukan dengan memasang peralatan deteksi dini peningkatan debit air sungai yang ditempatkan di beberapa titik di daerah hulu hingga hilir sungai. Alat deteksi dini ini dapat berupa bentangan kawat melintang tegak lurus lembah sungai, yang apabila putus terterjang aliran sungai akan memberikan sinyal dini ke daerah hilir sungai. "Pemantauan tersebut juga perlu dilengkapi dengan alat deteksi curah hujan yang terpasang di hulu sungai," katanya.

Menurut Guru Besar Geologi Teknik dan Lingkungan ini, banjir bandang dipicu oleh longsor dan pembendungan di daerah hulu, yang umumnya dicirikan dengan munculnya kenampakan berupa bekas-bekas longsor di bagian atas lembah sungai yang terbendung. Kenampakan bekas longsor ini dicirikan oleh bentuk seperti bekas "cakaran-cakaran" (bentuk 'torehan-torehan lengkung' berwarna tanah) pada lereng. "Kenampakan torehan-torehan ini dapat mudah teramati dari atas melalui citra satelit, foto udara ataupun inspeksi udara dengan helikopter/ pesawat terbang," jelasnya.

Seperti diketahui, bencana banjir bandang baru saja melanda Kampung Sandur, Distrik Wasior, Kabupaten Teluk Wondama, Papua Barat, dan mengakibatkan 89 orang tewas (yang diperkirakan masih terus meningkat), 66 orang hilang, 837 orang luka-luka, dan ratusan rumah terendam air ataupun terkubur batu dan tanah. Beberapa tahun sebelumnya, tercatat bencana banjir bandang pernah pula melanda beberapa wilayah di Indonesia, antara lain di tempat wisata pemandian air panas Pacet, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur (2002).

Selanjutnya, banjir bandang juga terjadi di lembah Sungai Jenebarang yang berada di lereng Gunung Bawakaraeng, Kabupaten Goa (2004); bantaran Sungai Bahorok, Taman Wisata Bukit Lawang, yang berada di Kaki Gunung Leuser, Sumatera Utara (2003), lembah/bantaran sungai di Kota Palu, juga di Kabupaten Jember, Jawa Timur (2006). (Humas UGM/Gusti Grehenson)