Contact Us
Webmail
Publikasi Media
Direktori Bahasa Indonesia
English

Wamenkes: Ketergantungan Bahan Baku Obat Masih Tinggi

Kategori :

Hampir 90 persen obat yang beredar di Indonesia merupakan produk dalam negeri. Indonesia pun mampu mengekspor vaksin ke-180 negara.

Meski sudah mampu memproduksi obat secara lokal, namun dalam proses pembuatan 95 persen bahan baku justru diimpor dari luar negeri. Akibatnya negara tidak memiliki kemandirian dalam pengadaan obat untuk warganya.

Demikian pernyataan Wamenkes RI, Prof. dr. Ali Gufron Mukti, M.Sc., Ph.D di Auditorium Magister Manajemen UGM, Kamis (20/12) pada Seminar Nasional “Eksistensi Apotek di Era Sistim Jaminan Sosial Nasional (SJSN)”.

Dalam seminar yang digelar Pascasarjana Fakultas Farmasi UGM, Mawenkes menjelaskan bila harga vaksinasi injeksi di luar negeri 50 kali lipat dibanding dalam negeri, dan Indonesia masih tergantung dengan luar maka bisa dipastikan tidak tersedia obat untuk masyarakat. “Tentu saja karena saking mahalnya,” jelas Ali Gufron.

Guru Besar Fakultas Kedokteran UGM menuturkan Indonesia sesungguhnya memiliki lebih dari 13 ribu tanaman obat. Tanaman-tanaman tersebut berpotensi untuk dikembangkan sebagai produk obat.

Kondisi tersebut membuthkan inovasi dari apoteker dan stakeholder lain dalam mengembangkan tanaman obat menjadi produk obat. Apalagi saat ini terjadi perkembangan varian penyakit.

“Tenaga di bidang farmasi harus kreatif memanfaatkan kekayaan alam sebagai bahan baku obat sehingga bisa menekan ketergantungan pada bahan baku obat dari luar negeri,” tuturnya.

Direktur Pusat Pengkajian dan Konsultasi Industri, Manajemen dan Pelayanan Farmasi, Fakultas Farmasi UGM, Dr. Sampurno, MBA menilai kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia masih rendah. Banyak dijumpai berbagai pelayanan tidak memadai dan ditemui banyak penggunaan obat yang tidak rasional.

Sementara pemanfaatan obat di Indonesia semakin meningkat. Pada tahun 2007 penggunaan obat ethical mencapai 16 triliun rupiah dan pada tahun 2011 meningkat menjadi 27 triliun rupiah.

“Peningkatan ini karena meningkatnya kebutuhan obat atau ada pengkreasian kebutuhan yang mendorong penggunaan obat secara berlebihan dengan biaya besar,” ungkapnya. (Humas UGM/ Agung)