Contact Us
Webmail
Publikasi Media
Direktori Bahasa Indonesia
English

Mewaspadai Bencana Banjir dan Tanah Longsor di DIY

Kategori :

Yogya, KU

Memasuki musim penghujan, menurut pakar bencana UGM Dr Sunarto banyak daerah di wilayah DIY yang menjadi daerah rawan terkena bencana banjir maupun tanah longsor. Daerah rawan tanah longsor tersebut diantaranya daerah Gunung Kidul bagian utara; Gendang Sari, Patuk. Adapun daerah Kulon Progo, diwaspadai bencana longsor yang terjadi pada bulan Januari dan Februari 2008. Sedangkan daerah yang diperkirakan rawan banjir, sekitaran Kecamatan Kretek (sungai Opak) dan daerah dekat sungai Kali Progo. Sementara, daerah kota Jogja akan terjadi inundasi (penggenangan air).

“Inundasi di kota Jogja terjadi saat hujan deras turun secara terus menerus, airnya langsung menggenangi jalan–jalan terutama di seputaran jalan Colombo, jalan Solo, Kusumanegara, Monginsidi, dan Mentrei supeno,” ungkap Sunarto ketika dihubungi, Rabu (7/11) di kantor Pusat Studi Bencana Alam UGM.

Sunarto mengusulkan kepada pemerintah kota, sebelum masuk ke pertengahan musim penghujan sebaiknya parit-parit di sekitar jalan tersebut sudah semestinya dibersihkan. Karena pseristiwa ini kerap terjadi dan selalu berulang setiap tahun, terutama memasuki musim penghujan.

Penyebab terjadinya genangan air di perkotaan, menurut Sunarto karena sedikitnya lahan terbuka di daerah perkotaan sebagai tempat resapan air sementara bangunan-bangun baru muncul dengan padatnya. Sedangkan tidak diimbangi pembangunan dan perbaikan drainase, maka genangan air pun terjadi di mana-mana

“Tidak adanya lahan terrbuka di daerah perkotaan untuk menjadi resapan air hujan, akibatnya jalan-jalan dipenuhi oleh genangan air, maka dari itu, mau tidak mau drainase harus tetap dikontrol,” ujarnya.

Agar tidak terjadi banyak genangan air, tutur Sunarto, semua masyarakat juga perlu disadarkan kembali untuk membuat sumur resapan di rumahnya masing-masing sehingga air hujan yang turun melewati atap rumah tidak mengalir dan masuk ke jalan-jalan dan selokan.

“Mumpung musim hujan, seharunya kita panen air jangan sampai membuang air, yang terjadi saat ini adalah membuang air, kalo membuang air, ya kalo sungainya mampu menampungya, misalnya di jogja ada sungai code, gajah wong, winongo, kalo sungai ini tidak mampu menampung buangan air dari rumah penduduk maka pemukiman di sekitar bantaran sungai bisa tergenang oleh air tersebut,” tegasnya.

Terkait dengan ratusan areal persawahan di daerah Kulon Progo yang terendam air, sehingga petani mengalami kerugian ratusan juta, kata Sunarto, solusi yang mungkin bisa ditempuh segera adalah memperbaiki drainase irigasi persawahan karena karena hujan yang akan turun dalam beberapa bulan mendatang akan bertambah deras. (Humas UGM)