Contact Us
Webmail
Publikasi Media
Direktori Bahasa Indonesia
English

Memasyarakatkan Kondom Dalam Upaya Pencegahan Penyebaran Virus HIV/AIDS

Kategori :

Penanggulangan penyebaran penyakit virus HIV/AIDS masih memerlukan upaya keras lagi untuk lebih banyak menemukan para penderita baru yang positif terkena penyakit tersebut. Hal ini merupakan satu-satunya cara untuk mengeliminasi atau mempersempit penyebaran virus itu sendiri. Dengan ditemukan penderitanya, berarti bisa memanipulasi penderita agar tidak menularkan ke orang lain.

Di Indonesia, menurut laporan Depkes, sekitar 170 ribu orang positif terkena virus HIV/AIDS namun demikian baru 13 ribu orang yang terdeteksi.

“Jadi ini masih fenomena gunung es,” ungkap Tim medis POKJA HIV/AIDS RS Sardjito dr. Bambang Sigit Riyanto, SpPD kepada wartawan usai pelaksanaan Seminar Hari AIDS Internasional, Sabtu (1/12) di Ruang Auditorium FK UGM..

Dirinya menambahkan, jika banyak yang positif terkena HIV yang belum terdeteksi, maka masih banyak lagi di antara mereka yang masih tergeletak sakit atau langsung meninggal yang tidak sempat diketahui, bahkan sekarang pun masih banyak orang yang sehat yang masih enggan melakukan tes HIV/AIDS.

Sosialisasi Kondom

Salah satu usaha yang dilakukan dalam penanggulangan penyebaran virus HIV/AIDS dengan melakukan sosialisasi kondom yang sudah dilakukan oleh Komisi Penanggulangan AIDS (KPA), Departemen Kesehatan (Depkes), dan LSM kepada mereka yang memiliki risiko yang lebih tinggi terutama pada kelompok Pekerja Seks Komersial (PSK), kelompok gay, kelompok pengguna narkoba dengan jarum suntik dan anak-anak jalanan.

“Sosialisasi kondom saat ini cukup bagus, sudah ditangani oleh LSM, ada funding dari luar yang memang melaksanakan program kondomisasi meski baru dilakukan terbatas kepada kelompok yang berisiko tingggi,” ujar ketua panitia hari AIDS Internasional dari RS Sardjito ini.

Kendati demikian, dirinya menyadari sosialisasi ini masih mengalami kendala mengenai sejauh mana kondom yang diberikan tersebut dipakai oleh penggunanya. Bambang menjelaskan bahwa tahun 2004 kondom di tingkat risiko tinggi hanya 10 persen yang digunakan, sehingga perlu disosialisasi pada risiko tinggi seperti PSK, gay, anak jalanan.

Sigit pun mencontohkan kasus dimana para PSK yang sudah menawarkan kondom kepada calon pelanggannya, namun ditolak. “Meskipun para PSK itu sudah HIV positif dan menawarkan kondom kepada pelanggannya, tapi jika si pelanggan memaksa menolak untuk memakainya, informasi yang saya dengar mereka tetap melakukannya (hubungan pasutri). PSK barangkali berpikir, daripada tidak dapat uang dari aktivtas itu,” imbuhnya.

Tantangan terbesar dalam sosialisasi kondom saat ini, menurut Bambang Sigit, bagaimana memperbanyak VCT (Voluntary Counseling and Testing) kepada kelompok yang mempunyai faktor risiko memungkinkan melakukan hubungan yang tidak aman (tanpa pelindung), melakukan drug user (narkoba beramai-ramai) dan di derah lokalisasi yang banyak dihuni oleh para PSK.

“Kelompok berisiko tinggi ini angka prevalensi masuk ke level terkonsentrasi (high level) atau sudah berada diatas 5 persen pada populasinya,” tegasnya.

Sementara, pemakaian kondom di tingkat rumah tangga belum merupakan sebuah strategi, tetapi setidaknya bagi mereka yang hanya berhubungan dengan pasangannya menggunakan kondom atau tidak memang belum dianjurkan. Sampai saat ini pun masyarakat umum dimasukkan dalam kategori low insidensi dimana masih dibawah 0,1-0,5 persen di tingkat populasi.

Menurut Sigit, jika salah satu pasangan manyadari salah satu dari pasangan tersebut memiliki faktor risiko, misalnya si suami yang sering jajan tapi belum diketahui statusnya positif atau tidak, maka harus dibangun kesadaran untuk memakai kondom.

Sigit menyadari bahwa ada sebagian masyarakat yang masih belum menerima keberadaan kondom dan mengindentikkan kondom dilekatkan pada kelompok yang memiliki perilaku menyimpang.

“Ada sebagian masyarakat yang kita anggap masih puritan masih menolak dan belum menerima pembagian kondom secara gratis ini,” tegasnya.

Mayoritas penderita yang positif terkena HIV/AIDS , kata Sigit, berada pada usia 20-30 tahun. Usia ini menurut sigit perlu dilakukan sosilisasi kondom lebih lanjut karena tidak dipungkiri masih banyak aktvitas seksual yang tidak menggunakan proteksi.

“Pada kelompok mahasiswa dan siswa masih sebatas penyuluhan, membangun perilaku seksual yang benar atau beradab serta bertanggungjawab,” tukasnya.

Maka dari itu, jelas Sigit, sosilisasi kondom akan selalu tetap dilakukan kepada kelompok berisiko tinggi. “Sosialisasi dan pembagian kondom secara gratis tetap diprioritaskan di tempat yang berisiko tinggi seperti di lokalisasi, dimana ada volunteer, ada penjangkau di bawah LSM secara regular membagikan kondom,” tandasnya.

Sementara itu, dr. Diah Rumekti Hadiati, Sp.OG dari Bag. Obstetri & Ginekologi Fakultas Kdokteran UGM menyebutkan tingginya kasus HIV/AIDS di kalangan pengguna narkoba suntik atau Injecting Drug Users (IDU) lebih dari 95 persen laki-laki muda usia 16-25 tahun.

“Dikhawatirkan akan terjadi penularan HIV kepada pasangan perempuannya yang pada gilirannya bisa berakibat teradinya penularan HIV dari ibu ke bayi,” katanya.

Diah menuturkan bahwa sebuah survey di Jakarta menunjukkan bahwa 53 persen pengguna narkoba dengan jarum suntik laki-laki pernah melakukan seks dengan lebih dari satu partner, dan 20 persen pernah melakukan seks dengan PSK.

“Mayoritas tidak menggunakan kondom,” ujarnya. (Humas UGM/Gusti Grehenson)