Contact Us
Webmail
Publikasi Media
Direktori Bahasa Indonesia
English

Atasi Terorisme Harus dengan Pendekatan Multidisipliner

Kategori :

Yogya, KU

Untuk mengatasi masalah terorisme, dibutuhkan pendekatan multidisipliner. Pemerintah tidak hanya berkewajiban memburu dan menangkap teroris lalu memasukkannya ke dalam penjara. Namun, intervensi terhadap narapidana (napi) teroris, baik selama dalam masa tahanan maupun sesudah kembali ke masyarakat, juga penting untuk diperhatikan.

“Bukan jihad yang menjadi seseorang menjadi teroris, tapi motivasi ingin memiliki identitas karena dikenang sebagai mujahid atau mati sebagi syuhada. Masalahnya mereka bisa dalam pengambilan keputusan,” kata Dosen Psikologi UIN Sultan Syarif Hasim, Riau, Dr. Mirra Noor Milla, dalam Seminar Bulanan 'Profil Psikologis Teroris di Indonesia: Dasar bagi Penerapan Metode Counter Terrorism', Kamis (10/9), di Magister Studi Kebijakan (MSK) UGM.

Menurut Mirra, studi yang pernah dilakukan terhadap kelompok teroris di Timur Tengah menunjukkan 80 persen mereka yang dipenjara sebagai napi teroris akan kembali menjadi teroris setelah keluar dari penjara. Akan tetapi, dengan intervensi pemerintah melalui program pengembalian mantan napi teroris ke masyarakat terbukti secara efektif berhasil membuat mereka meninggalkan dunia teror.

Ditambahkan oleh doktor lulusan Fakultas Psikologi UGM bulan Mei lalu ini, untuk memahami konspirasi terorisme seharusnya lebih berfokus pada aspek psikologis. Dengan demikian, akan diketahui cara berpikir pelaku teror dan pengikutnya karena mereka tidak memiliki banyak pertimbangan dalam bertindak dan mengambil keputusan. “Seolah semua yakin pada Tuhan. Cara berpikirnya itu simpel sekali,” kata perempuan kelahiran Pekalongan, 24 April 1973 ini.

Para pelaku teror ini, kata Mirra, secara umum dalam kesehariannya menunjukkan kondisi psikologis normal. Namun, mereka selalu membatasi diri terhadap hal-hal yang tidak sesuai dengan tuntunan agama yang diyakini. “Mereka dibimbing dengan motivasi yang sangat kuat, terutama dalam pengambilan keputusan,” tuturnya.

Mirra telah melakukan penelitian psikologis teroris sejak 2003 hingga 2009 di beberapa tempat, seperti Bali, LP Cipinang, Tanjung Pusta Medan, dan Polda Metro Jaya. Ia juga meneliti 5 orang responden narapidana yang berdomisili di Pekalongan, Serang, dan Lamongan. Menurut hasil penelitiannya, para teroris tersebut merasa terasingkan dalam menjalani kehidupan. Hal itu disebabkan oleh keinginan mereka untuk hidup sebagai muslim yang kaffah tidak terpenuhi oleh lingkungan, sistem, dan nilai-nilai yang jauh dari keyakinan mereka.

“Bila orang lain mengganggap mencoreng Islam, bagi mereka tidak. Teror melawan musuh Islam sudah dianggap sebagai teroris terpuji sehingga harus bangga jadi teroris,” jelasnya. (Humas UGM/Gusti Grehenson)