Contact Us
Webmail
Publikasi Media
Direktori Bahasa Indonesia
English

16 Paguyuban Kepercayaan Kejawen Masih Eksis Di Yogyakarta

Kategori :

YOGYAKARTA – DIY memiliki banyak paguyuban kebatinan. Sedikitnya, 16 paguyuban penghayatan kejawen di Yogyakarta masih menjalankan nilai-nilai kejawen, seperti mengucapkan mantra, semedi, larungan, dan sesaji. Salah satu di antaranya adalah Paguyuban Sumarah Purbo, Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, Tris Soka, dan Sapta Darma.

Berdasarkan hasil penelitian, beberapa alasan para pengikut kepercayaan kejawen masih mempertahankan keyakinannya karena ingin mengaktualisasikan budi luhur dan budi pekerti untuk menjadi ‘manusia utama’ guna mencapai ketenteraman hidup. Langkah yang ditempuh adalah dengan cara membangun ruang dan suasana hidup kebatinan jawa, meyakini dan mempertahankan pandangan hidup kejawen sebagai pedoman aktualisasi budi luhur.

"Budi luhur dipahami sebagai budaya ideal dan budi pekerti sebagai pedoman pekerti yang dipertahankan dan dikreasi menjadi doktrin," kata Drs. Suwardi, M.Hum. dalam ujian promosi untuk memperoleh gelar doktor di Fakultas Ilmu Budaya UGM, Kamis (17/3).

Suwardi yang kini menjadi staf pengajar Pendidikan Bahasa Jawa, Universitas Negeri Yogyakarta, ini mengatakan sebagian para pengikut kejawen ini mempertahankan budi luhur dan budi pekerti meskipun telah memeluk agama tertentu. Namun, ada juga para penghayat kejawen yang tetap enggan memeluk agama. "Mereka merasa damai, nyaman, dan tidak gelisah mengikuti kepercayaan kejawen ini," kata pria kelahiran Kulon Progo, Yogyakarta, 1964.

Dalam paguyuban kejawen, budi luhur dianggap lebih sakti untuk melawan kegelisahan batin, agamaisasi, dan menjanjikan keselamatan kosmologis hingga kelak dapat meraih manunggaling kawula-Gusti. Dalam hidup bermasyarakat, hal itu diaktualisasikan dengan sikap toleransi, tepa selira, ikhlas, dan mengedepankan watak moral sepi ing pamrih.

Suwardi menyampaikan gerakan penghayat kepercayaan memang bukan aliran sesat melainkan sebuah tradisi budaya yang luhur, yang dapat dijadikan teladan dalam kehidupan bermasyarakat. "Ini adalah gerakan budaya spiritual, mau dinamakan agama atau bukan, itu terserah yang memberikan atribut. Yang jelas, mereka bukan ateis, tidak menyembah kayu watu, melainkan menyembah Tuhan," katanya. (Humas UGM/Gusti Grehenson)