Contact Us
Webmail
Publikasi Media
Direktori Bahasa Indonesia
English

‘Manora’ dan ‘Hanoman’ Hadir di Pentas Seni dan Budaya Se-ASEAN

Kategori :

YOGYAKARTA – Hubungan diplomatik negara-negara ASEAN tidak hanya dilakukan oleh para pemimpin-pemimpin negara masing-masing, tetapi juga antargenerasi muda. Yang lebih menarik, dialog dilakukan lewat ajang pentas seni budaya. Hal itulah yang dilakukan para delegasi mahasiswa dalam rangkaian kegiatan The 9th ASEAN Youth Cultural Forum di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri, Selasa malam (24/5).

Sebanyak 15 delegasi perguruan tinggi dari Thailand, Filipina, Malaysia, Singapura, Vietnam, Brunai Darussalam, Laos, dan Indonesia unjuk kebolehan dalam menampilkan seni dan budaya masing-masing. Mahasiswa Burapha University Thailand sebagai pembuka penampilan menyajikan kesenian tarian ‘Manora’.

Tarian 'Manora' menggambarkan bidadari yang sayapnya hilang dicuri oleh seorang pangeran. Dalam tarian yang diiringi suara dentingan lonceng dan tabuhan gendang ini dilukiskan si bidadari tidak dapat kembali ke kayangan. Oleh sang pangeran, sayap milik bidadari akan diserahkan kembali dengan syarat mau dipersunting menjadi istri sang pangeran. Cerita yang digambarkan dalam tarian tersebut mirip dengan cerita Jaka Tarub di Indonesia.

Lima orang mahasiswa asal Filipina kemudian tampil dengan lagu dan tarian tradisional yang mereka namakan ‘A Glimpse of the Barrio’. Tarian dan nyanyian yang ditampilkan menggambarkan suasana kehidupan masyarakat pedesaan Filipina pada masa penjajahan kolonial. Peserta asal Universitas Kebangsaan Malaysia juga tidak mau ketinggalan. Mereka menampilkan tarian ‘One Malaysia’ dengan mengenakan busana yang mewakili etnis-etnis di Malaysia, seperti Melayu, Cina, dan India. Irama musiknya pun memadukan irama khas musik etnis masing-masing.

Sementara itu, peserta dari Nanyang Technological University, Singapura, menampilkan permainan akustik gitar. Yang menarik, permainan gitar tersebut mewakili lagu-lagu dari berbagai negara ASEAN. Lagu caca marica, gelang sipatu gelang, hingga theme song Doraemon diperdengarkan dalam kesempatan itu. Lagu yang terakhir ini mampu mengajak penonton spontan bernyanyi bersama. Mafhum, lagu ini akrab didengar dalam film Doraemon yang tayang di televisi.

Penampilan peserta dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menjadi penutup dari rangkaian pentas seni malam itu. Mewakili Indonesia, peserta dari UGM menampilkan tarian kontemporer yang diberi tajuk ‘Mutiara Nusantara’. Tarian hasil kreasi baru dari 10 mahasiswa UGM ini menggabungkan komposisi dan unsur tradisi serta alunan gamelan gaya Jogja.

‘Mutiara Nusantara’ mengisahkan petualangan Hanoman bersama dengan kekasihnya, Trijata, yang terbang berkeliling ke seluruh pelosok nusantara. Keduanya singgah ke berbagai daerah, mulai dari Jogja, Bali, hingga Papua. Setiap singgah, keduanya menyaksikan salah seorang penari menampilkan kesenian didaerahnya. Di Bali, misalnya, mereka menikmati suguhan tari pendet.

Penanggung jawab acara, Eddy Pursubaryanto, mengatakan pentas seni ini telah disiapkan jauh hari sebelumnya. Sehari sebelum pentas, masing-masing delegasi melakukan latihan bersama. “Masing-masing peserta ada yang bawa alat musik tradisional sendiri, tapi ada juga yang membawa CD atau DVD dari negaranya,” katanya.

Dengan penampilan masing-masing 10 hingga 15 menit, panitia harus mepersiapkan segala sesuatunya lebih matang untuk memfasilitasi pementasan dari 15 delegasi. “Setiap delegasi menampilkan seni budayanya masing-masing. Tiap negara ada yang mengirim lebih dari satu delegasi. Malaysia saja mengirim empat delegasi, Thailand ada dua delegasi. Semuanya tampil,” tambahnya.

Rektor UGM, Prof. Ir. Sudjarwadi, M.Eng., Ph.D., dalam sambutannya mengatakan kegiatan budaya antardelegasi mahasiswa ASEAN kali ini diharapkan semakin menambah erat kerja sama dalam mengembangkan budaya masing-masing. “Tidak hanya akademik, tetapi mengetahui dan mengenal budaya masing-masing melalui even ini,” tuturnya.

Direktur Eksekutif ASEAN University Network (AUN), Nantana Gajaseni, menuturkan kegiatan semacam ini semakin memperkuat saling kesepahaman, persahabatan, dan kerja sama antarmasyarakat ASEAN. “Warisan budaya merupakan bagian identitas yang patut dipertahankan. Saya harap akan terbangun jaringan dan masa depan yang lebih baik bagi generasi ASEAN,” pungkasnya. (Humas UGM/Gusti Grehenson)