Kerontjong Toegoe, Musik Kerocong Yang Masih Tetap Bertahan

Kategori :

Ada beberapa alasan musik Krontjong Toegoe mampu bertahan hingga saat ini. Salah satunya, pada masa Hindia Belanda ia dipandang sebuah ‘Seni Baru’ berupa musik yang cocok bagi budaya Indis masyarakat Batavia kota saat itu. “Ia bukan musik barat atau musik tradisi pribumi”, ujar Victor Ganap MEd, Dosen Jurusan Musik Fakultas Seni Pertunjukkan Institut Seni Indonesia Yogyakarta.

Selain itu, musik Krontjong Toegoe mampu mengakomodasi selera masyarakat Batavia dengan repertoar lagu-lagu Hindia Belanda. Ia memperoleh dukungan masyarakat Indi-Belanda yang sebelumnya telah membentuk Krontjong Kemajoran. “Disamping itu, di setiap pertunjukkannya terdapat nilai kewirausahaan didalamnya”, ujar Victor.

Victor Ganap menjelaskan hal tersebut saat dirinya mempertahankan desertasi berjudul “Krontjong Toegoe: Sejarah Kehadiran Komunitas dan Musiknya Dikampung Tugu, Cilincing, Jakarta Utara” hari Jum’at (21/7) di ruang seminar Sekolah Pascasarjana UGM.

Menurutnya, musik Krontjong Toegoe masih bertahan tidak terlepas pula dari ikatan primordial yang dimiliki dan sistim kekerabatan kokoh melalui berbagai acara tradisional. Seperti acara tradisional ‘Sagu-Sagu untuk merayakan Natal, acara ‘Rabu-Rabu’ untuk merayakan Tahun Baru, dan acara ‘Mandi-Mandi’ untuk membersihkan diri memasuki tahun yang baru.

“Acara tahunan ‘Mandi-Mandi’ masih tetap dilaksanakan hingga saat ini pada setiap Minggu pertama di bulan Januari. Acara ini sangat menarik perhatian publik media cetak dan elektronik baik nasional maupun internasional”, tandas Victor.

Apa yang dilakukan Victor Ganap memang memiliki arti penting bagi masyarakat dalam menyingkap tabir misteri sejarah musik keroncong. Penelitian sejenis memang jarang dilakukan. Sementara itu, sejak abad ke-19 musik keroncong telah diterima dan menjadi musik milik bangsa Indonesia. “Terlebih lagi musik keroncong menjadi salah satu aliran besar musik Indonesia. Sejak tahun 1952 menjadi jenis musik yang dilombakan dalam Kejuaraan Bintang Radio dan Televisi”, tandas pria kelahiran Jakarta 16 juni 1948.

Dengan promotor Prof Dr RM Soedarsono MA dan ko-promotor Prof Dr Soebakdi Soemanto SU serta Drs Triyono Bramantyo M Mus PhD, promovendus berhasil meraih predikat cumlaude dan sekaligus menjadi doktor ke-734 yang diluluskan UGM (Humas UGM).