Contact Us
Webmail
Publikasi Media
Direktori Bahasa Indonesia
English

Jerami Fermentasi, Pakan Pengganti Hijauan

Kategori :

BANTUL – Kelompok Peneliti Fakultas Kedokteran Hewan melaksanakan kegiatan penyuluhan kesehatan reproduksi dan aplikasi hasil diseminasi teknologi tepat guna berupa pemanfaatkan jerami fermentasi sebagai pakan sapi. Kegiatan program pendampingan peningkatan kualitas dan kapasitas ternak ini diterapkan pada kelompok ternak ‘Sidodadi’, dusun Kepuh kulon, Wirokerten, Banguntapan, Bantul.

Dr. drh. Yanuartono, MP mengatakan pemanfaatan pakan jerami fermentasi ditujukan untuk membantu peternak yang kesulitan mendapatkan pakan hijauan di saat musim kemarau. Selain itu, petani diajak untuk memanfaatkan limbah jerami yang melimpah saat musim panen padi tiba. “Yang terpenting peternak tidak mengalokasikan waktunya lagi untuk mencari rumput, dan bisa memanfaatkan waktu luangnya untuk bekerja lainnya,” kata Yanuar, ditemui dalam sela-sela penyuluhan, Jumat (3/8).

Dia menerangkan pembuatan pakan fermentasi dibuat dengan cara cukup sederhana. Mencampur jerami kering dengan polar dengan perbandingan 10 : 2, serta ditambahkan air secukupnya. Campuran jerami dan polar ini dimasukkan ke dalam tabung untuk dilakukan fermentasi selama satu minggu. “Pakan sapi ini siap dipanen, ditandai dengan aroma yang harum dan tekstur tidak berubah “ katanya.

Pakan ini menurut Yanuar mempercepat penyerapan sari makanan dalam tubuh sapi. Pasalnya, sapi membutuhkan waktu fermentasi terhadap seluruh makanan yang ditampung di dalam rumen. “Justru pakan alternative ini, fermentasi sudah dilakukan lebih dulu,” katanya.

Drh. Erif Maha Nugraha, dalam penyuluhan kepada 23 peternak menerangkan jumlah pemberian pakan pada sapi tiap harinya minimal 10 persen dari total berat badan. Bila pakan yang diberikan kurang dari 10 persen maka akan berisiko mengganggu sistem kesehatan reproduksi sapi. “Jika pemberian pakan susah, yang rusak sistem reproduksinya,” kata dosen bagian Obsgin FKH UGM ini.

Hartono, 35 tahun, salah satu peternak, mengatakan hasil pendampingan yang dilakukan dari peneliti FKH UGM tersebut sudah berjalan selama tiga tahun. Beberapa hasil pemanfaatan teknologi tepat guna sudah dimanfaatkan langsung oleh peternak. Diantaranya pemeriksaaan kesehatan rutin, pemanfaatan limbah kotoran ternak untuk diolah menjadi biogas dan pupuk organik. “Biogas sudah kita manfaatkan untuk dapur kandang ternak,” katanya.

Sementara untuk pakan fermentasi baru mulai dikenalkan. Menurutnya pakan tersebut dinilai cukup membantu dalam pemberian pakan alternatif ternaknya.”Ternyata ternak suka dan lahap, kini saya rutin membuatnya,” katanya. (Humas UGM/Gusti Grehenson)