Contact Us
Webmail
Publikasi Media
Direktori Bahasa Indonesia
English

Sungai Cikarang Bekasi Laut Tercemar Kadmium

Kategori :

YOGYAKARTA-Pemerintah perlu melakukan pengawasan yang lebih ketat terhadap industri yang membuang limbahnya di Sungai Cikarang, Sungai Bekasi dan Sungai Cikarang Bekasi Laut (CBL), karena kandungan kadmium (Cd) dalam air sungai CBL sebagian telah melampaui batas Baku Mutu. Selain itu pada musim kemarau, petani yang menanam sayuran di bantaran sungai sebaiknya tidak menggunakan air sungai untuk menyiram tanaman budi-dayanya, karena pada musim kemarau konsentrasi polutan sangat tinggi.

“Pengawasan antara lain bisa dilakukan oleh instansi terkait seperti Bapedalda dsb,”tegas Alfandi, pada sidang terbuka ujian doktor Program Studi Ilmu Lingkungan di Sekolah Pascasarjana, Rabu (19/9).

Pada ujian tersebut Alfandi mempertahankan disertasinya yang berjudul Sebaran Kadmium Dalam Sayuran dan Lahan di Bantaran Sungai Cikarang Bekasi Laut dan Pengaruh Bahan Organik Terhadap Serapan Kadmium oleh Tanaman.

Menurut Alfandi kontaminasi zat pencemar pada air sungai dan tanah di bantaran sungai yang tercemar lebih banyak diakibatkan oleh aktivitas manusia (antropogenik), seperti pembuangan limbah industri dan limbah domestik. Kadmium (Cd), merupakan salah satu jenis polutan inorganik yang bersifat toksik bagi makhluk hidup. Logam Cd dari air sungai akan berpindah ke lahan bantaran sungai secara alami maupun oleh aktivitas manusia, dan pada gilirannya akan diserap oleh tanaman dan masuk ke dalam rantai makanan manusia.

“Perlu upaya untuk menurunkan serapan logam Cd oleh tanaman dengan menggunakan bahan organik sebagai senyawa penyerap logam berat,”kata pengajar Fakultas Pertanian Universitas Swadaya Gunungjati (Unswagati) Cirebon tersebut.

Penelitian yang dilakukan Alfandi dilakukan di Sungai Cikarang Bekasi Laut (CBL), Bekasi, Jawa Barat, menggunakan 2 metode, yaitu metode survei dan metode percobaan. Metode survei dilaksanakan terutama dalam pengambilan sampel air, tanah dan tanaman untuk mengkaji konsentrasi Cd maupun pH tanah dan air serta mempelajari bagaimana sebaran Cd dalam sayuran yang ditanam oleh petani.

Sedangkan metode percobaan dilaksanakan untuk mempelajari bagaimana pengaruh bahan organik terhadap serapan Cd dari ketiga tanaman, yaitu kangkung, bayam dan caisin.

“Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan Cd dalam tanah (bantaran secara melintang) semakin tinggi dengan semakin mendekati air sungai,”urainya.

Keberadaan logam Cd di lahan bantaran sungai yang dekat (3 meter), kata Alfandi, lebih diakibatkan oleh perpindahan secara alami oleh limpasan air sungai secara fluktuatif, sedangkan di lahan yang digunakan untuk budidaya tanaman lebih disebabkan oleh penggunaan air untuk irigasi/penyiraman tanaman oleh petani.

Sementara penggunaan air sungai untuk penyiraman tanaman lebih sering dilakukan pada saat musim kemarau, yaitu pada saat konsentrasi logam Cd dalam air sungai relatif tinggi. Kandungan Cd dalam jaringan tanaman uji (bayam, kangkung maupun caisin) mempunyai korelasi positif dengan kandungan Cd dalam tanah.

“Semakin tinggi kandungan Cd dalam tanah maka semakin tinggi kandungan Cd dalam jaringan tanaman,”imbuh pria kelahiran Pandaan, 22 Mei 1962 ini.

Dalam penelitian tersebut juga terungkap kandungan Cd dalam organ akar jauh lebih tinggi dibandingkan kandungannya dalam tajuk tanaman. Rata-rata kandungan Cd dari tanaman uji berbeda, dari yang paling tinggi adalah bayam>kangkung>caisin. Pemberian bahan organik (dalam bentuk kompos jerami) berpengaruh sangat nyata dalam menurunkan serapan Cd oleh tanaman. Pada takaran 10 ton/ha dapat menurunkan kandungan Cd sebesar 17,62% dalam organ akar dan 31,62% dalam tajuk tanaman.

“Ke depan perlu dilakukan penelitian lanjutan terutama tentang sebaran logam Cd di lahan sawah dan tanaman padi maupun palawija yang menggunakan irigasi dari air Sungai CBL, terutama di musim kemarau,”terang Alfandi yang lulus dengan predikat sangat memuaskan tersebut (Humas UGM/Satria AN).