Contact Us
Webmail
Publikasi Media
Direktori Bahasa Indonesia
English

Pemetaan Penyakit Ternak Lereng Merapi

Kategori :

YOGYAKARTA – Tim peneliti Fakultas Kedokteran Hewan bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, melakukan pemetaan penanggulangan penyakit ternak sapi perah dan sapi potong di daerah lereng Merapi di tiga Kabupaten, Sleman, Klaten dan Magelang. Rencananya, masing-masing kabupaten akan diambil 200 sampel ternak untuk mengetahui sebaran penyakit ternak pasca erupsi Merapi.

Ketua Tim peneliti, Prof. Dr. Ida Tjahajati, M.P., mengatakan pengambilan sampel darah, susu, dan feses digunakan untuk memastikan jenis sumber penyakit yang menyebar di kandang sapi. “Kita ingin mendapat satu gambaran pola penyakit ternak sehingga bisa ditindaklanjuti solusi apa kedepan yang bisa dilakukan,” kata Ida kepada wartawan, ditemui disela-sela pemeriksaan hewan ternak di dusun Singlar, Glagahharjo, Cangkringan, Sleman, Selasa (4/12).

Selain mengambil sampel, puluhan dokter hewan FKH UGM juga dikerahkan untuk melakukan pemeriksaan dan pengobatan hewan ternak gratis. Bahkan juga melakukan pendampingan dan penyuluhan manajemen pakan dan kandang ternak. “Tidak hanya dari aspek kesehatan saja tapi juga terkait manajemen pakan dan perkandangan,” kata Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan UGM ini.

Pasca erupsi Merapi, kata Ida, persoalan kesehatan ternak yang dihadapi oleh warga yang tinggal di sekitar lereng merapi relatif hampir sama yakni adanya penurunan respon imun ternak, mastitis dan cacingan. “Paling rawan adalah penurunan respon imun ini dan penyakit mastitis yang menyebabkan menurunnya produksi susu sapi perah,” katanya.

Adanya pemetaan dan penanggulangan penyakit hewan ternak di lereng Merapi diharapkan bisa mempertahankan daerah lereng Merapi sebagai daerah potensial usaha ternak sapi perah. “Tidak semua wilayah potensi usaha peternakan. Tapi kebanyakan penduduk di daerah ini petani peternak. Kita akan tetap mempertahankan sebagai daerah basis peternakan sapi,” katanya.

Widya Nurswantoro, Bagian Seksi Kesehatan Masyarakat Veteriner, Dinas Pertanian, Perikanan dan Peternakan, Kabupaten Sleman, menyebutkan populasi sapi potong dan sapi perah di bagian utara Sleman masing-masing 400 dan 3.800-an ekor. Jumlah Sapi perah menurun drastis dibanding sebelum erupsi Merapi yang mencapai 5000-an ekor. “Kita targetkan hingga 2014 jumlah sapi perah bisa mencapai 5000 ekor kembali,” katanya.

Namun tidak semua sapi perah produktif menghasilkan susu. Diperkirakan hanya 60 persen dari total sapi perah masih produktif menghasilkan susu. Karena adanya persoalan pakan dan penyakit mastitis. “Produksi susu sapi perah per ekor hanya mampu menghasilkan 12 liter per hari. Padahal daerah penghasil susu seperti Rembang bisa menghasilkan 15 liter per hari,” pungkasnya. (Humas UGM/Gusti Grehenson)