Contact Us
Webmail
Publikasi Media
Direktori Bahasa Indonesia
English

Dengan SROP, Panen Padi Di Donoharjo Berlipat

Kategori :

Kelompok Tani muda Ngepas, Desa Donoharjo, Kecamatan Ngaglik, Sleman berhasil menerapkan pola pertanian peduli lingkungan. Produksi gabah padi yang diperoleh meningkat dua kali per seribu meter, dengan menggunakan perpaduan pupuk SROP (Slow Release Organic Paramagnetic) dan urea.

Panen perdana dilakukan, Sabtu (16/3), padi yang ditanam pada 30 November 2012 di atas lahan seluas satu hektar. Hasil perhitungan per seribu meter berhasil menghasilkan 1,1 ton gabah.

Melihat hasil yang diperoleh, Mulyadi, pelopor petani muda Ngepas, Donoharjo merasa senang. Ia bersama petani muda lainnya merasakan manfaat dari pupuk SROP yang dikembangkan Dr. Agus Kuncaka, DEA, staf pengajar Jurusan Kimia FMIPA UGM.

“Dulu tanpa SROP dengan hasil 5,1 kuintal per seribu meter, kita sudah senang. Sekarang ko bisa mencapai 1 ton per seribu meter, sungguh luar biasa,” papar Mulyadi.

Meski saat ini masih memakai pupuk kimia sebanyak 60 kg per seribu meter, Mulyadi berharap penggunaan tersebut akan semakin berkurang seiring perbaikan tanah dengan menggunakan pupuk SROP. Sebab pupuk SROP selain meningkatkan produksi gabah mampu memperbaiki struktur tanah yang telah rusak. “Ya kita berharap seperti itu, bahkan tidak menutup kemungkinan nantinya kita tidak bergantung lagi pada urea,” tambahnya.

Dr. Agus Kuncaka, DEA, staf pengajar Jurusan Kimia FMIPA UGM yang turut mendampingi petani dalam penggunaan pupuk SROP mengatakan panen raya sebagai bukti masyarakat antusias mencari terobosan untuk meningkatkan hasil panen. Para petani pun mulai sedikit melepas ketergantungan dengan pupuk kimia.

“Kita bisa melihat satu rumpun menghasilkan 40-50 batang padi, padahal biasanya hanya 15 batang padi. Belum lagi satu tangkai padi, biasanya hanya 130 butir padi, kini dengan cara baru menghasilkan rata-rata 200 butiran padi,” katanya.

Dikatakannya SROP merupakan terobosan untuk mengurangi penggunaan pupuk kimia yang dinilai sangat merusak lingkungan dan pencemaran tanah. Dengan pupuk biochar yang diberi nama Slow Release Organic Paramagnetic (SROP) diharapkan mampu memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah.

Anang Sanjaya, SE, Ketua Gabungan Kelompok Tani Sleman merasa senang dengan panen raya kali ini. Ia berharap keberhasilan penggunaan pupuk SROP, tidak hanya di desa Donoharjo namun bisa meluas sampai ke wilayah-wilayah lain. “Saya berharap tidak hanya di Ngepas, namun desa-desa lain di Sleman. Syukur-syukur bisa berkembang lebih luas lagi,” paparnya. (Humas UGM/ Agung)