Contact Us
Webmail
Publikasi Media
Direktori Bahasa Indonesia
English

Rektor UGM Serahkan SK CPNS dan Satyalancana Karya Satya

Kategori :

Rektor UGM, Prof. Dr. Pratikno, M.Soc. Sc menyerahkan SK CPNS dan penghargaan Satyalancana Karya Satya 30, 20 dan 10 tahun kepada PNS UGM yang telah mengabdi dengan penuh kesetiaan kepada Pancasila, UUD 1945, negara dan pemerintah dengan penuh pengabdian, kejujuran dan kecakapan. Penyerahan SK CPNS dan Satyalancana Karya Satya ini diberikan bertepatan dengan momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2013.

Sebelum acara penyerahan, Direktur Sumber Daya Manusia UGM, Dr. Ratminto, M.Pol.ADMIN., menjelaskan bahwa pada tahun 2012 formasi CPNS UGM sebanyak 94 orang terdiri dari dosen 55 orang dan tenaga Rumah Sakit Akademik (RSA) sebanyak 39 orang. Dari formasi 94 orang hanya terisi formasi sebanyak 80 orang dan diusulkan untuk mendapatkan NIP, sedangkan untuk 14 formasi tidak terisi.

“Dari usulan NIP sebanyak 80 orang telah disetujui dan diterimakan SK CPNSnya sebanyak 17 orang hari ini,”papar Ratminto di Balai Senat UGM.

Dari 17 orang yang mendapatkan SK CPNS tersebut terdiri dari 3 orang dosen dan 14 tenaga Rumah Sakit Akademik.

Sementara itu untuk PNS yang mendapatkan penghargaan Satyalancana Karya Satya terdiri dari 88 orang penerima Satyalancana Karya Satya 30 tahun, 57 orang penerima Satyalancana Karya Satya 20 tahun serta 18 orang penerima Satyalancana Karya Satya 10 tahun.

Rektor UGM, Prof. Dr. Pratikno, M.Soc.Sc dalam sambutannya menegaskan kembali berbagai peluang yang dimiliki UGM baik di kancah nasional maupun internasional. Untuk melihat Indonesia dunia internasional banyak merujuk kepada UGM.

“Kunjungan Presiden Singapura serta Putera Mahkota Norwegia belum lama lalu menjadi bukti. Belum lagi kerjasama yang banyak melibatkan perguruan tinggi asing seperti Monash University,”kata Pratikno.

Posisi Indonesia, kata Pratikno, cukup kuat dan potensial seperti di bidang ekonomi. Ia mencontohkan bagaimana negara luar berusaha agar seperti Indonesia menjadi lumbung pangan. Hal ini menjadi peluang sekaligus harus diantisipasi oleh Indonesia agar tidak ‘terjajah’.

“Ini yang biasa kita sampaikan juga kepada mahasiswa bagaimana supaya UGM bisa selalu mengakar kuat dan menjulang tinggi,”tegasnya (Humas UGM/Satria AN)