Universitas Gadjah Mada

Login Portal Akademik

Kabar UGM Online

Edisi 84/V/21 Juli 2009

Berharap Hak Paten dari Dadih

Apakah anda termasuk orang yang mengkonsumsi makanan atau minuman kesehatan? Kalau ya, Anda tentu mengenal produk seperti Yakult, Vitacan, Bion 3, Yoghurt, dan sebagainya. Produk ini biasanya tampil berupa makanan/minuman fermentasi ataupun suplemen. Di dalamnya terkandung probiotik atau dalam bahasa iklannya disebut “bakteri baik”. Konon bakteri inilah yang bisa membuat tubuh sehat dan meningkatkan kekebalan tubuh. Sayang semua teknologi probiotik itu milik negara luar. Indonesia hanya memiliki lisensi untuk membuatnya. Belum satu pun paten probiotik dari Indonesia. Padahal Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang sangat banyak.

Tetapi, tidak lama lagi Indonesia akan segera memiliki paten probiotik. Boleh jadi paten iu akan berasal dari UGM. Lihatlah, 6 Januari 2005, Wakil Rektor UGM Bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Prof. Dr. Retno Sunarminingsih, MSc, Apt, menandatangani kontrak “Penelitian Inovatif Grant UGM” untuk Dr. Ir. Eni Harmayani, Msc, Dosen Fakultas Teknologi Pertanian UGM.

Penelitian yang akan dilakukan Bu Eni—kata Bu Eni—tentang pembuatan tablet effervescent probiotik Lactobacillus sp. Dad 13 sebagai produk minuman untuk menurunkan kolestrol. “Penelitian ini sebenarnya talah dimulai tahun 2000. Kami melakukan screening terhadap mikrobia-mikrobia Indonesia atau lokal yang berpontensi sebagai agensia probiotik. Dari sini kami memperoleh sejumlah bakteri asam laktat (BAL) dari 33 isolat terpilih,” ujar Bu Eni. Isolat ini, selama ini, kita peroleh dari makanan fermentasi tradisional Indonesia, seperti gatot, dadih, gaplek, dan sebagainya.

Dari penelitian lanjutan, Bu Eni menemukan bahwa BAL terpilih mampu menurunkan kolestrol. BAL itu adalah Lactobacillus sp. Dad 13 yang diisolasi dari dadih, makanan tradisional Sumatera Barat. “Dadih terbuat dari fermentasi susu kerbau. Susu ini dimasukkan ke dalam ruas bambu segar kemudian didiamkan. Dalam 24 jam secara spontan, mikrobia dari bambu akan menggumpalkan susu menjadi semacam puding atau tahu putih,” kata dosen yang meraih gelar Ph.D dari Colorado State University, Amerika tahun 1993 ini.

Setelah diuji, baik secara in vitro dan in vivo, BAL dari dadih ini ternyata ampuh untuk menurunkan kolestrol pada hewan coba. Penurunan kolestrol sebanyak 39,8% pada hewan coba yang diberi pakan tanpa kolestrol dan 13,4% pada hewan yang diberi pakan tinggi kolerstrol. Sedangkan, pemberian susu fermentasi oleh probiotik dari Dadih yang dipasteurisasi dan disterilisasi menunjukkan penurunan kolestrol antara 42-45% pada diet tinggi kolestrol dan 50-53% pada diet standar. Ini tentu kabar baik buat penderita penyakit jantung koroner dan orang yang memiliki kadar kolestrol darah yang tinggi.

Apakah penelitian ini akan berhenti sampai disitu? Bu Eni menjawab tegas, ”Tentu saja tidak! Kami berinovasi membuatnya dalam bentuk tablet effervescent.” Dengan bentuk tablet ini diharapkan ia disimpan pada suhu kamar, tahan lama, mudah dibawa kemana-mana dan lebih praktis. Kalau butuh, pengguna tinggal mencelup atau memasukkannya ke dalam air dan segera meminumnya.

Menurut Bu Eni, proses pembuatan dalam bentuk tablet effervescent ini akan memakan waktu 6 bulan sebelum diujicobakan kepada manusia. “Inilah tantangannya. Tidak mudah membuat probiotik tetap hidup dalam tablet kering dan pada suhu ruang,” ungkap peraih posisi kedua ‘Microbiology Competition’, Institute of Food Technology Amerika Serikat tahun 1992 ini.

Bu Eni juga berhasrat untuk mengembangkan isolat-isolat lokal Indonesia. “Kita terkadang tidak sadar akan potensi itu. Padahal orang Jepang sangat gigih mengidentifikasi dan memetakan mikrobia-mikrobia kita. Akhirnya kita harus belajar dari mereka tentang mikrobia kita sendiri,” ungkap Bu Eni yang diwanti-wanti Bu Retno agar tidak dulu mempublikasikan hasil penelitiannya

Penelitian yang dilakukan Bu Eni memang cukup inovatif dan prospektif. Ia punya peluang untuk dikembangkan dan memiliki potensi paten. Wajar bila ia kemudian terpilih sebagai satu di antara tiga pemenang “Penelitian Inovatif Grant-UGM”. “Saya menyukai tantangan. Kalau penelitian ini berhasil sekaligus mendapat paten, dampaknya akan positif buat UGM. Apalagi probiotik plus penurun kolestrol ini cukup potensial di pasaran, ” ujar Bu Eni penuh harap (wawancara dan penulisan: B-hary; editing: Abrar).

( )