Pemakaian Obat Esensial di Sektor Swasta Masih Memprihatinkan


YOGYAKARTA-Dibandingkan dengan tahun 1990-an, situasi penggunaan obat di Indonesia sudah berangsur membaik, utamanya di sektor pelayanan publik. Data nasional yang dikompilasi dari berbagai laporan menunjukkan persentase pasien yang menerima antibiotika di Puskesmas berangsur menurun dari 88% di tahun 1987 menjadi sekitar 50% di tahun 1997, 1998, 1999, 2002 dan sekitar 50% di tahun 2010.
Selain itu persentase pasien yang menerima injeksi telah berhasil dikendalikan, dari 74% di tahun 1987 turun drastis menjadi 4-11%, dan kemudian bertahan sekitar 3% di tahun 2010. Persentase penggunaan obat esensial di sektor publik selalu baik, yaitu berkisar antara 93-100%. Sedangkan persentase penggunaan obat esensial di sektor swasta masih perlu ditingkatkan karena hanya berkisar 34-49%.
“Sementara di sisi lain penggunaan obat non-esensial ikut memberikan kontribusi terhadap besarnya biaya obat, yaitu sekitar 3-5 kali lebih banyak daripada yang seharusnya,”ini diungkapkan oleh Prof.Dr.Dra.Sri Suryawati, Apt., pada pidato pengukuhannya sebagai guru besar Fakultas Kedokteran, Senin (26/6) di Balai Senat UGM.
Pada pidato pengukuhannya yang berjudul Kearifan Budaya Indonesia Untuk Solusi Masalah Global Penggunaan Obat, Suryawati menegaskan penting serta kemajuan obat esensial yang sangat menggembirakan. Dalam kurun waktu 3 dekade, 86% negara di dunia telah mempunyai Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN), termasuk Indonesia.
Menariknya, kata Suryawati, hasil survei WHO yang dipublikasikan tahun 2011 menyebutkan semua (100%) negara dengan tingkat pendapatan tinggi menggunakan obat esensial untuk pengadaan obat publiknya. Untuk sektor swasta, datanya masih memprihatinkan karena hanya sekitar 13% negara saja yang mengutamakan obat esensial.
“Ada beberapa faktor penghambat seperti geografis, distribusi, jaminan ketersediaan, jaminan mutu obat hingga komitmen penyelenggara pelayanan,”urai Suryawati.
Dalam upaya meningkatkan mutu penggunaan obat menurut Suryawati masyarakat perlu bersikap kritis. Disamping itu, diperlukan juga kearifan untuk tidak serta menyalahkan penyedia pelayanan kesehatan yang menggunakan obat secara kurang tepat. Menurut Suryawati setidaknya ada tiga aspek yang perlu dicermati untuk meningkatkan mutu penggunaan obat, yaitu aspek penyedia pelayanan, aspek pasien, dan aspek lingkungan kerja.
“Tanpa memahami faktor tersebut agak sulit bagi kita untuk melakukan perbaikan secara tepat sasaran, nyaman bagi target, dan dalam suasana yang menyenangkan,”tutur perempuan kelahiran Yogyakarta, 27 Mei 1955 itu.
Suryawati memaparkan tiga model upaya perbaikan mutu penggunaan obat yang dikembangkan di Indonesia dan menarik perhatian dunia, diadopsi banyak negara dan digunakan dalam program nasional mereka. Ketiga model tersebut, yaitu CBIA (Cara Belajar Ibu Aktif), IGD (Interactional Group Discussion) dan MTP (Monitoring-Training-Planning).
CBIA adalah model edukasi pemberdayaan masyarakat agar lebih terampil memilih obat sehingga swamedikasi menjadi lebih efektif, aman, dan hemat biaya. IGD adalah model edukasi dengan memanfaatkan diskusi interaktif antara penyedia pelayanan kesehatan dan masyarakat untuk menghindarkan penyuntikan yang tidak diperlukan. Sedangkan MTP adalah model edukasi berbasis pemecahan masalah, sebagai instrumen untuk meningkatkan mutu penggunaan obat di rumah sakit.
“Ketiga model ini sarat dengan nilai dan konsep budaya Indonesia. Respon masyarakat dunia sangat baik terhadap ketiga model tersebut menunjukkan bahwa kearifan budaya Indonesia merupakan modal kuat untuk ‘go internasional’,”kata Suryawati.
Melalui model pendekatan tersebut Suryawati berharap agar konsep-konsep kearifan budaya Indonesia perlu diperhatikan dan dilestarikan. Jangan sampai kita pergi ke luar negeri untuk mempelajari budaya Indonesia dan kemudian mengimpornya ke Indonesia. Suryawati mencontohkan jangan sampai mahasiswa Indonesia kuliah di luar negeri untuk belajar The Gunungkidul Experience.
“Asal kita mampu meramu dalam format yang logis masyarakat global sangat besar untuk belajar dan mengadopsi metode yang kita kembangkan. Indonesia pantas jadi sumber belajar dunia,”pungkas Suryawati (Humas UGM/Satria AN)